Pendidikan di Daerah Terpencil Kaltim Terkendala Akses Jalan dan Transportasi
Agusriansyah
Ridwan, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur.
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA :Ketimpangan akses pendidikan di wilayah pedalaman Kalimantan Timur masih menjadi masalah serius. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya infrastruktur dasar yang memadai, yang membuat anak-anak di daerah terpencil terpinggirkan dari hak pendidikan yang layak.
Di tengah gencarnya kampanye pemerataan
pendidikan, kondisi riil di lapangan justru memperlihatkan jurang yang semakin
dalam antara wilayah perkotaan dan kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan
Terluar).
Di banyak desa di Kalimantan Timur, anak-anak
harus menempuh perjalanan panjang, melintasi jalan rusak, bahkan berjalan kaki
selama berjam-jam hanya untuk bisa sampai ke sekolah.
Menurut Agusriansyah Ridwan, anggota Komisi IV
DPRD Kalimantan Timur, pendekatan pembangunan selama ini terlalu berpusat pada
wilayah perkotaan.
Hal ini mengakibatkan kebijakan pendidikan
tidak sensitif terhadap tantangan geografis dan infrastruktur di daerah-daerah
pelosok.
“Masalah pendidikan di daerah tidak bisa
diselesaikan hanya dengan membangun gedung sekolah. Ketika akses fisik menuju
sekolah pun tidak tersedia, maka semewah apa pun fasilitas belajar tidak akan
berguna,” tuturnya, Senin (16/6/2025).
Agusriansyah menekankan bahwa ketimpangan
infrastruktur transportasi berdampak langsung pada ketidaksetaraan pendidikan.
Ia mencontohkan kondisi di mana murid harus menyebrangi sungai tanpa jembatan
atau berjalan kaki puluhan kilometer karena tidak ada angkutan umum yang bisa
menjangkau desa mereka.
Situasi ini menurutnya mengindikasikan
kegagalan dalam menyatukan perencanaan lintas sektor. Ia menyayangkan bahwa
pembangunan jalan, transportasi, dan perencanaan wilayah tidak dikaitkan secara
strategis dengan kebutuhan pendidikan.
“Pendidikan seharusnya dipandang sebagai
ekosistem. Ketika satu elemen seperti akses transportasi tidak berfungsi, maka
seluruh sistem ikut terganggu,” katanya.
Ia mendorong agar pemerintah, baik pusat
maupun daerah, mulai mengintegrasikan pembangunan infrastruktur dasar dengan
kebutuhan layanan pendidikan, khususnya di wilayah 3T.
Ia juga mengingatkan bahwa jargon pemerataan
dan pendidikan gratis hanya akan menjadi simbolis tanpa dukungan nyata dari
pembangunan fisik yang memadai.
“Membangun satu jembatan di desa bisa lebih
berarti dibanding membangun gedung sekolah baru di pusat kota. Karena jembatan
itu bisa membuka akses bagi ratusan anak ke dunia pendidikan,” tegasnya.
Agusriansyah mengajak semua pemangku
kepentingan untuk berhenti melihat pendidikan secara sektoral. Menurutnya,
hanya dengan kolaborasi lintas bidang dan keberpihakan anggaran yang jelas,
anak-anak di pelosok Kalimantan Timur bisa merasakan arti dari pendidikan yang
merata. (ADV/DPRDKALTIM)